Postingan

Gambar
MEWUJUDKAN PROFIL PELAJAR PANCASILA SEBAGAI PENGUATAN KARAKTER DALAM PENDIDIKAN ABAD-21 Neneng Lia Rohmalia Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan Gel. 2 Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pasundan, Bandung. Nenengliarahmalia04@gmail.com   Pendidikan adalah ujung tombak bangsa, karena generasi yang berpendidikan akan     membawa     bangsa     Indonesia     kearah     yang     lebih     baik. Pentingnya Pendidikan bagi bangsa sehinga harus benar-benar di perhatikan, jika buruknya pendidikan maka akan menjadi suatu kemunduran. Generasi sekarang akan menggantikan peran penting dalam pembangunan dengan ilmu yang baik maka baik pula masa depan. Sependapat dengan (Asrial, Et al; 2022) peserta didik sekarang memegang peran penting dimasa yang akan mendatang. Pendalaman ilmu pengetahuan dan pendidika...

BAHAN AJAR IPAS GAYA GESEK

Gambar
 

Hari pahlawan untuk generasi bangsa

Gambar
Generasi bangsa masih setia ? Semacam rumusan masalah dalam sebuah makalah yang harus terpecahkan. Ku pandang dalam sebuah cerobong bercelah bangsa ini perlu adanya pemuda. Tapi bukan pemuda generasi labil yang sukanya main main, bukan pula generasi yang tunduk dalam telunju tak berarti. Para pemuda terdahulu mengiangkan sumpah terhadap negeri ini. mengempalkan tangan, merapikan barisan membela tanah air. tanpa lelah beliau tetap berjuang, pesanku untuk pahlawanku "wahai para pahlawanku yang kini telah terbaring di tanah bumi pertiwi ini. yang kini telah tergeletak di lembah-lembah, yang kini telah bersemayang di kubur tak bernisan, yang kini telah berbaring di dasar lautan. terima kasih atas segala jasamu semoga generasi bangsa mu mampu menjadi penerus bangsa ini."

Suara nyaring mu

Siapa itu ? Ku toleh dengan penuh tanya. Ku dengar, dan ku merasa. Ini sosok yang kemarin sore. Dia datang dengan alunan rindu dengan balutan nada penuh kalbu. Mulai dia petik barisan senar dan mengundang ku untuk bersua melantunkan suara merdu. Namun ku tak bisa semerdu suara nyaringmu. Ku terbata bata mengikuti langkah suara cantikmu. Dengan malu ku berkata "maaf ku menghancurkan melodi melodi lindah" Seketika ku tersimpuh kagum mendengar suaramu kenapa begitu merdu suara nyaring mu? Kau alun kan nada nada perihal rasa yang membuatku semakin terpana. Ternyata itu lagu asmara. Berbariskan kalau jodoh gak kemana. Satu lagu telah kau alunkan namun suara nyaring mu masih terkenang.

Pertemuan Singkat

Pukul 19.00 telah tiba saat nya ku menemui perkumpulan kecil yang menjadi rutinitas setiap minggu nya. Lama ku bersua bersama teman sejawatku yang menjadi bagian dari perkumpulanku malam itu. Diantara kerumbunan orang yang aku kenal, ada sosok yang asing bagiku, ku pandang lagi dan lagi memang aku tak mengenalnya. Dalam hati ku bertanya siapa dia ? Kenapa aku merasa melihat dia berbeda dari yang lainnya. Goresan senyum membuyarkan lamunku, dengan tersipu ku balas senyum itu. Semakin ku penasaran akan makhluk tuhan itu, siapa dia? Selang beberapa menit dia memperkenalkan sosoknya dengan lembut dan membuat ku heran betapa santun nya dia. Ku putar putar pensil yang ku gengam dan imajinasi ku berkata, esok atau lusa ku ingin menyapanya.

Ku sapa tapi kau tak menyapa

Apa kabar ? Kerap ku berkata seolah berharap kau menyapa kembali.. Ternyata hening, tak bersua seakan tak ada jawaban yang menerangkan Mungkin saat ini kau diam seolah memberikan insyarat kepadaku tentang sebuah tanya. Kembali ku berpikir ulang. Mungkin tak seharusnya ku menyapa bila tak disapa. Mungkin tak semestinya ku bicara bila tak didengar. Ku mencoba beranjak dari keegoisan tentang sebuah tanya yang terabaikan. Baiklah aku akan diam.. Walau mulut tak terkondisikan. Baiklah biar ku bertanya saja dalam diamku dan sepiku. Kau tak perlu menjawab kau tak perlu menyapa. Seandainya kau dapat mendengar percakapanku dengan tuhan peciptaku kau akan tau aku menyisipkan doa terindah untukmu. Doa yang seakan memaksa akan dirimu. Namun kau tak perlu tau, karna itu doa keegoisan ku untuk mu. Cukup kau tau saja aku seorang penyapa yang tak disapa.

Perantau ulung

Pulang, pulang , pulang... begitu dikata para pecandu rantau yang menuggu jam pulang tiba. Hari hari dilalui untuk pulang, hingga rindu dan pulang menjadi tak terdefiniskan. Pernah berpikir kalau dunia rantau memang menawarkan candu yang tak tertarakan dari kampung halaman tempat berpulang, namun itu hanyalah hawa belaka yang pada dasarnya kampung halaman lebih mengasikkan. Rindu masakan yang tak terdefinisikan, rindu bermain rindu pantai rindu semua tentang kampung halaman. Seberapa lama lagi aku menjadi perantau ulung yang tak pernah pulang?