DIFUSI, ASIMILASI, DAN AKULTURASI

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas individu
Mata Kuliah: Budaya Nasional Indonesia
Dosen Pengampu:
Drs. H. Sedya Santosa, SS, M.Pd.









Disusun oleh:
Sem. V/PGMI C
Neneng Lia Rohmalia (15480003)





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2017

DIFUSI, ASIMILASI, DAN AKULTURASI
Disusun oleh: Neneng Lia Rohmalia

ABSTRAK
Sejak lama, para ahli antropologi tertarik pada peristiwa pertemuan dua ke budayaan atau Iebih, terutama sejauh manakah hal tersebut dapat menyebabkan perubahan, baik sosial maupun budaya Sementara itu, juga disadari bahwa berubahnya unsur-unsur suatu kebudayaan tidak selalu dapat diartikan sebagai kemajuan, namun dapat pula dianggap sebagai kemunduran suatu masyarakat, untuk memahami pertemuan dua kebudayaan atau lebih di kalangan suku-suku bangsa dan kebudayaan di Indonesia yang beraneka warna, perlu dikaji berbagai bentuk interaksi sosial mereka. Asimilasi adalah proses sosial yang timbul bila ada golongan-golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda-beda, saling bergaul langsung secara intensif untuk waktu yang lama, sehingga kebudayaan-kebudayaan golongan-golongan tadi masing-masing berubah sifatnya yang khas, dan juga unsur-unsurnya masing-masing berubah wujudnya menjadi unsur-unsur kebudayaan campuran. Akulturasi kiranya ini adalah sendi terpenting di dalam strategi kebudayaan kita. Dengan akulturasi itu masyarakat nusantara berkembang, memperkaya diri dengan pengaruh unsur-unsur dari luar, tetapi tanpa kehilangan identitasnya, tanpa kehilangan subjektivitasnya.

Kata kunci : Difusi, Asimilasi, Dan Akulturasi



BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sejak lama, para ahli antropologi tertarik pada peristiwa pertemuan dua ke budayaan atau Iebih, terutama sejauh manakah hal tersebut dapat menyebabkan perubahan, baik sosial maupun budaya Sementara itu, juga disadari bahwa berubahnya unsur-unsur suatu kebudayaan tidak selalu dapat diartikan sebagai kemajuan, namun dapat pula dianggap sebagai kemunduran suatu masyarakat, untuk memahami pertemuan dua kebudayaan atau lebih di kalangan suku-suku bangsa dan kebudayaan di Indonesia yang beraneka warna, perlu dikaji berbagai bentuk interaksi sosial mereka. Kelompok sosial dan lembaga kemasyarakatan di kalangan berbagai suku bangsa tersebut adalah bentuk struktural dari masyarakat, dan dinamikanya tergantung pada pola perilaku warganya dalam menghadapi suatu situas tertentu.

Rumusan masalah
Bagaimana penetrasi kebudayaan difusi?
Bagimana penetrasi kebudayaan asimilasi?
Bagimana penetrasi kebudayaan akulturasi?

Kerangka Teori
Difusionis eropa terkemuka adalah Fritz Graebner dan Wilhelm Schmidt. Di Amerika Serikat paradigm ini mengekspresikan dirinya melalui konsep “daerah kebudayaan” dan tampak secara mencolok dalam karya Clark Wissler dan Alfred Kroeber. Namun, semenjak pertengahan abad ke-20 difusionisme tak lagi memiliki dukungan yang signifikan.

BAB II
PEMBAHASAN
Difusi
Difusionisme atau disebut dengan difusi adalah landasan pembentukan prinsip determinisme budaya. Kemudian, interpretivisme dan post modernism pada masa belakangan ini berreaksi terhadap penekanan pada struktur sosial dan visi monolitik proses sosial yang dominan sebelumnya. Difusinonisme adalah perspektif yang menekankan transmisi gagasan dari saru tempat ke tempat lain.
Teori evolusi mendapatkan tantangan dari teori difusi kebudayaan, yang menduduki tempat penting dalam ilmu kebudayaan dalam abad ke-20 ini. teori defuse masuk dalam aliran historismus dalam ilmu kebudayaan. Historisme dalam kebudayaan beranggapan, waktu manusia muncul terdapat satu kebudayaan disuatu tempat. Kebudayan asal atau kebudayaan pokok itu berkembang, menyebar atau pecah dalam berbagai kebudayaan baru karena pengaruh ruang dan waktu. Manusia makin lama makin berkembang, pecah membentuk bangsa-bangsa. Bangsa-bangsa pendukung kebudayaan yang sudah pecah-pecah itu bergerak dan pindah-pindah. Mereka pengaruh mempengaruhi. Apabila pada 2 kebudayaan didua daerah terdapat persamaan kulturkomplex berdasarkan kualitas kriteria dan kuantita kriteria, dapatlah disimpulkan persamaan itu adalah hasil difusi. Difusi menurut Graebner disebabkan 2 kebudayaan itu mungkin dari bangsa tetangga (sebab manusia berasal dari satu daerah), atau difusi itu melalui hubungan urut dari bangsa tetangga kebangsa tetangga lain, sehingga akhirnya dua bangsa yang berjauhan memiliki unsur-unsur kebudayaan bersamaan.
Apabila tiap-tiap unsur yang bersamaan dalam 2 atau lebih kebudayaan hasil dari difusi kebudayaan? yaitu penyebaran unsur-unsur atau kompleks-kompleks kebudayaan dari suatu masyarakat kemasyarakat yang lain (dengan penerimaan atau penolakan unsur atau kompleks yang menyebar itu secara sukarela). Orang cenderung untuk menjawab pertanyaan ini dengan apabila ia menghadapi kebudayaan dalam prasejarah atau kebudayaan bersahaja. Apabila unsur kebudayaan yang berdasarkan dan dikerjakan secara ruwet, yang didapat diluar daerah kebudayaan itu, maka umumnya orang menafsirkan persamaan itu karena difusi. Misalnya barang-barang perunggu, besi, tembikar dan tekstil. Tetapi di zaman modern sekarang persamaan unsur dari 2 kebudayaan yang berbeda, mungkin disebabkan oleh independent invention. Ambil misalnya penemuan-penmuan dalam dunia ilmu, berdasarkan bahan-bahan ilmiah yang universal sifatnya, yang dimiliki oleh sarjana berbagai bangsa, atau lebih negeri. Misalnya penemuan-penemuan alat teknik, mesin dan sekarang bom atom, roket, peluru kendali, kapal selam, atom, satelit, dll. Mengenai unsur kebudayaan yang sederhana misalnya, pembuatan rakit, penemuan sederhana yang terjadi diberbagai daerah. Dan akhirnya difusi kebudayaan itu baru dengan aman dapat diterima kalau ada bukti hubungan hubungan antara bangsa-bangsa yang kebudayaan memiliki unsur yang bersamaan. Apabila kita bicara tentang difusi kebudayaan, sesungguhnya kita mempersoalkan hubungan antara kebudayaan, pengaruh mempengaruhi antara kebudayaan. Membicarakan ini membawa kita pada akulturasi.
Bersamaan dengan penyebaran dan migrasi kelompok-kelompok manusia di muka bumi, turut pula tersebut unsur-unsur kebudayaan dan sejarah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan ke seluruh penjuru dunia yang disebut difusi, yang juga merupakan ilmu antropologi diakronis. Salah satu bentuk difusi adalah penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari satu tempat ke tempat lain di muka bumi oleh kelompok-kelompok manusia yang bermigrasi. Bentuk difusi yang lain lagi dan mendapat perhatian ilmu antropologi adalah penyebaran unsur-unsur kebudayaan yang berdasarkan pertemuan-pertemuan antara individu dalam suatu kelompok manusia dengan individu kelompok tetangga. Pertemua-pertemuan antar kelompok ini dapat berlangsung dengan berbagai cara. Zaman modern sekarang ini, difusi unsur-unsur kebudayaan yang timbul di salah satu temopat di muka bumi, berlangsung dengan cepat sekali. Bahkan sering kali tanpa kontak yang nyata antara inividu-individu. Ini disebabkan karena adanya alat-alat yang sangat efektif, seperti surat kabar, majalah, buku, radio dan tv. Akhirnya kalau kita perhatikan suatu proses tidak hanya dari sudut bergeraknya unsur-unsur kebudayaan dari suatu tempat ke tempat lain di muka bumi saja, tetapi terutama sebagai suatu proses di mana unsur-unsur kebudayaan dibawa oleh individu-individu dari suaru kebudayaan, dan harus diterima oleh individu-individu dari kebudayaan lain, maka terbukti bahwa tidak pernah terjadi difusi dari suatu unsur kebudayaan. Unsur-unsur itu selalu berpindah-pindah sebagai suatu gabungan atau suatu kompleks yang tidak mudah dipisahkan. Hal ini sebenarnya dapat dipahami dengan mudah, kalu kita mengambil sebuah contoh dari zaman sekarang, mobil adalah suatu unsur kebudayaan yang mula-mula ditemukan di serpo, dikembangkan di eropa dan amerika, kemudian didifusikan dari kedua pusat penyebaran itu ke benua-benua lain. Namun, mobil tidak dapat diterima oleh indiviu-individu dari masyarakat lain sebagai suatu alat pengakuanyang berguna, apabila tidak ada unsur lain yang harus melengkapi pemakaian mobil itu, yaitu unsur-unsur seperti sistem jalam-jalan yang baik, sistem servis, dan perbekalan yang baik, sistem persediaan suku cadang, pendidikan montir, sistem pajak mobil, sistem asuransi mobil dsb. Serupa dengan itu, unsur-unsur kebudyaan lain biasanya menyebar dalam kompleks –kompleks. Dalam ilmu antropologi, gabungan dari unsur-unsur kebudayaan yang menyebar antarkebudayaan seperti itu diberi nama kultur-kompleks.


Asimilasi
Asimilasi adalah proses sosial yang timbul bila ada golongan-golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda-beda, saling bergaul langsung secara intensif untuk waktu yang lama, sehingga kebudayaan-kebudayaan golongan-golongan tadi masing-masing berubah sifatnya yang khas, dan juga unsur-unsurnya masing-masing berubah wujudnya menjadi unsur-unsur kebudayaan campuran. Menurut Alba dan Nee, Asimilasi dapat berarti sebagai penurunan, dan pada titik akhir yang hilangnya, dari perbedaan etnis/ras dalam sosial budayanya. Definisi ini tidak menganggap bahwa salah satu dari kelompok-kelompok ini harus menjadi mayoritas etnis; asimilasi dapat melibatkan kelompok minoritas saja, dalam hal batas etnis antara mayoritas dan minoritas gabungan mungkin tetap utuh. Biasanya golongan-golongan yang tersangkut dalam suatu proses asimilasi adalah suatu golongan mayoritas dan beberapa golongan minoritas. Dalam hal ini golongan-golongan minoritas mengubah sifat khas dari unsur-unsur kebudayaannya dan menyesuaikannya dengan kebudayaan dari golongan mayoritas. Sedemikian rupa sehingga lambat laun kehilangan kepribadian kebudayaannya dan masuk ke dalam kebudayaan mayoritas. Proses-proses sosial yang disebut asimilasi itu banyak diteliti oleh para sarjana sosiologi, terutama di Amerika Serikat. Di sana timbul berbagai masalah yang berhubungan dengan adanya individu-individu dan kelompok imigran yang berasal dari  berbagai suku bangsa dan Negara di Eropa, yang mempunyai kebudayaan-kebudayaan yang berbeda-beda. Indonesia, mempunyai banyak golongan khusus, baik yang berupa suku bangsa, lapisan sosial, golongan agama, pengetahuan mengenai seluk-seluk proses asimiliasi dari tempat-tempat lain di dunia menjadi penting sekali sebagai bahan perbandingan.
Hal-hal yang penting untuk diketahui adalah faktor-faktor yang menghambat proses asimilasi. Dari berbagai proses asimilasi yang pernah di teliti oleh para ahli terbukti bahwa hanya dengan pergaulan antara kelompok-kelompok secara luas dan intensif saja, belum tentu terjadi suatu proses asimilasi, kalau di antara kelompokkelompok yang berhadapan itu tidak ada suatu sikap toleransi dan simpati satu terhadap yang lain. Orang Cina misalnya ada di Indonesia, bergaul secara luas dan intensif dengan orang Indonesia sejak berabad-abad lamanya. Namun. Mereka belum juga semua terintegrasi ke dalam masyarakat dan kebudayaan Indonesia, karena selama iu belum cukup ada sikap saling bertoleransi dan bersimpati.
Sikap toleransi dan simpati terhadap kebudayaan lain itu sebaliknya sering terhalang oleh berbagai faktor, dan faktor-faktor ini sudah tentu juga menjadi pengahalang proses asimilasi pada umumnya. Faktor-faktor itu adalah: kurang pengetahuan mengenai kebudayaan yang dihadapi, sifat takut terhadap kekuatan dan kebudayaan lain, perasaan superioritas pada individu-individu dari satu kebudayaan terhadap yang lain.
Akulturasi
Akulturasi kiranya ini adalah sendi terpenting di dalam strategi kebudayaan kita. Dengan akulturasi itu masyarakat nusantara berkembang, memperkaya diri dengan pengaruh unsur-unsur dari luar, tetapi tanpa kehilangan identitasnya, tanpa kehilangan subjektivitasnya. Akulturasi akan terjadi apabila terdapat dua kebudayaan atau lebih yang berbeda-beda sekali berpadu sehingga proses-proses atau pun penebaran unsur-unsur kebudayaan asing secara lambat laun diolah sedemikian rupa ke dalam kebudayaan asli dengan tidak menghilangkan identitas maupun keasliannya misalnya: didalam kehidupan masyarakat sehari-hari dijumpai bermacam-macam bentuk serta sistem politik, ekonomi,edukasi, agama dan kepercayaan lokal dll. Kalau dilihat sepintas lalu, semuanya seolah-olah merupakan unsur asli kebudayaan Indonesia, tetapi sesungguhnya aktivitas-aktivitas tersebut merupakan hasil pengintegrasian dan pengabsorbsian dari bentuk bentuk dan sistem-sistem yang telah lama berkembang di Negara-negara barat serta timur lainnya.
Istilah akulturasi mempunyai berbagai arti, tatpi semua sepaham bahwa konsep mengenai proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayan asing tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri. Terbukti bahwa tidak pernah terjadi difusi dari satu unsur kebudayaan. Unsur-unsur itu, seperti termaktub dalam contoh tentang penyebaran mobil tersebut selalu berpindah-pindah sebagai suatu gabungan atau suatu kompleks yang tidak mudah dipisah-pisahkan. Proses akulturasi memang ada sejak dulu kala dalam sejarah kebudayaan manusia, tetapi proses akulturasi yang mempunyai sifat khusus, baru timbul ketika kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa di Eropa Barat mulai menyebar ke semua daerah lain di muka bumi, dan mulai mempengaruhi masyarakat-masyarakat suka bangsa di afrika, Asia, Amerika latin. Peneliti-peneliti sekitar masalah akulturasi timbul dalam lapangan ilmu antropologi kurang dari setengah abad yang lalu.
Kalau masalah-masalah mengenai akulturasi kita ringkas akan dampak lima golongan masalah yaitu
Mengenai metode-metode untuk mengobservasi, mencatat, dan melukiskan suatu proses akulturasi dalam suatu masyarakat
Mengenai unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima dan sukar diterima oleh masyarakat.
Mengenai unsur-unsur kebudayaan apa yang mudah diganti atau diubah, dan unsur-unsur yang tidak mudah diganti atau diubah oleh unsur-unsur kebudayaan asing.
Mengenai individu-individu yang suka dan cepat menerima dan individu-individu yang sukar dan lambat menerima unsur-unsur kebudayaan asing.
Mengenai ketegangan-ketegangan dan krisis-krisis sosial yang timbul sebagao akibat akulturasi.
Dalam meneliti jalannya suatu proses akulturasi, seorang peneliti sebaiknya memperhatikan beberapa masalah khusus yaitu: keadaan masyarakat penerima sebelum proses akulturasi mulai berjalan, individu-individu dari kebudayaan asing yang membawa unsur-unsur kebudayaan asing, saluran-saluran yang dilalui oleh unsur-unsur kebudayaan asing untuk masuk ke dalam kebudayaan penerima, bagian-bagian dari masyarakat penerima yang terkena pengaruh unsur-unsur kebudayaan asing tdai, reaksi para individu yang terkena unsur-unsur kebudayaan asing.
Bahan mengenai keadaan masyarakat penerima sebelum proses akultuasi dimulai, sebenarnya merupakan bahan tentang sejarah dari masyarakat bersangkutan. Kalau kebudayaan dalam masyarakat penerima mempunyai sumber-sumber tertulis, maka bahan itu dapat dikumpulkan peneliti dengan menggunakan metode yang biasa dipakai oleh para sejarah. Dalam hal ini peneliti harus menggunakan metode-metode penelitian sejarah, atau paling sedikit minta bantuan para ahli sejarah.

BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
Difusionisme atau disebut dengan difusi adalah landasan pembentukan prinsip determinisme budaya. Kemudian, interpretivisme dan post modernism pada masa belakangan ini berreaksi terhadap penekanan pada struktur sosial dan visi monolitik proses sosial yang dominan sebelumnya. Asimilasi adalah proses sosial yang timbul bila ada golongan-golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda-beda, saling bergaul langsung secara intensif untuk waktu yang lama, sehingga kebudayaan-kebudayaan golongan-golongan tadi masing-masing berubah sifatnya yang khas, dan juga unsur-unsurnya masing-masing berubah wujudnya menjadi unsur-unsur kebudayaan campuran. Akulturasi kiranya ini adalah sendi terpenting di dalam strategi kebudayaan kita. Dengan akulturasi itu masyarakat nusantara berkembang, memperkaya diri dengan pengaruh unsur-unsur dari luar, tetapi tanpa kehilangan identitasnya, tanpa kehilangan subjektivitasnya.


DAFTAR PUSTAKA
Fedyani Saifuddin, Achmad, Antropolgi Kontemporer, Jakarta: Kencana, 2006.
Gazalba, Sidi, Pengantar Kebudayaan sebagai Ilmu, Jakara: Pustaka Antara, 1968.
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Rineka Cipta, 2009.
Julianti, Reni, “Komunikasi Antar Budaya Etnis Aceh Dan Bugis Makassar Melalui Asimilasi Perkawinan Di Kota Makassar”, Jurnal Komunikasi Kareba, Vol.4 No.1 Januari–Maret 2015.
Kodiran, “Akulturasi Sebagai Mekanisme Kebudayaan”, Humaniora, No. 8 Juni-Agustus 1998.
Moertopo, Ali, Strategi Kebudayaan, Jakarta: Csis, 1978.
Poerwanto, Hari, ”Asimilasi, Akultrasi, dan Integrasi  Nasional”, Humaniora, No. 12 September- Desember 1999.


Komentar

Postingan populer dari blog ini